BIZZARE LOVE
TRIANGLE
(FITRI NUR ANISA)
Pagi ini mentari bersinar, langit juga tampak
diam. Tidak seperti biasanya, pagi ini cuaca begitu cerah. Ku langkahkan kakiku
segera menuju kendaraan bersama ayah dan adik peremupuanku menuju sekolah.
Dengan wajah ceria berharap pada pelajaran olahraga hari ini aku bisa
melihatnya bermain bulutangkis dengan gaya
super coolnya.
*---*
Setibanya disekolah-
“Hei Ran, lagi-lagi
datang telat. Kamu ini pergi jam berapa sih dari rumah?” Tanya Amel padaku. “Ahh
Mel, biasa ini semua gara-gara adikku yang super banget lembetnya. Seperti
nggak tau aja kamu ni mel” jawabku. “Oh ya Mel, hari ini olahraga kita main
bulutangkis kan?”
Tanyaku pada Amel. “Iya Ran, nggak sabar nih pengen lihat permainan kerennya si
Rama. Bisa tambah tergila-gila kali jika aku lihat dia sekeren itu terus setiap
hari hehehe.” Lanjut si Amel sambil senyum-senyum sendiri. “Eh, si Rama ya. Iya
aku tau kok Mel, dia itu emang keren ya siapa dulu sahabatnya”. Jawabku sambil
tersenyum kecil. “Huhu sombong ya yang sudah temenan lama dengan dia, harusnya
kamu bisa bantuin aku deketin dia dong Ran” Lanjut Amel sambil memasang muka
cemburut.
Aku tidak tau apa yang harus ku katakan padamu
Amel. Kita mencintai orang yang sama, kita berdua mencintai Rama Fauzan. dan
kini jelas memang aku telah bersamanya tanpa sepengetahuanmu. Bahkan semua
orang tidak ada yang tau. Aku sangat merasa bersalah, tapi apakah aku juga
salah jika aku ingin bersama orang yang kucintai. Maafkan aku Amel. ‘’Hoiii
Ran, ngelamun aja ya kerjaan mu” Teriak Amel padaku dan membuat aku terbangun
dari lamunan kecilku. “Maaf Mel, biasa aja ya ngomongnya nggak usah pake teriak
bisa? Jawabku. “Ahh lupakan ayo kita cepat kelapangan aku mau cepat-cepat lihat
my lovely Rama Fauzan”. Lanjut Amel sambil ketawa sendiri sambil menarik
tanganku berlari menuju lapangan olahraga.
“Lagi-lagi aku hanya melihatnya sebentar, ini
semua gara-gara kita pindah lapangan nih. Kenapa juga kita harus main basket
jadinya kan
nggak satu lapangan” Keluh Amel lagi-lagi tentang Rama. “Sudah takdir Mel,
lagian niatmu sih sekolah hanya untuk ngeliat dia” Jawabku sambil tertawa.
“Coba saja kita satu kelas dengan Rama ya Ran, pasti aku bisa lihat dia setiap
hari tuh, nggak perlu curi-curi kesempatan seperti ini hahaha. Oh ya Ran,
pulang sekolah ada kerjaan gak? Temenin aku yuk ke gramedia, ada komik baru
nih” Tanya Amel yang tiba-tiba melupakan semua perkataanya tentang Rama. Aku
bersyukur dia berhenti membicarakan Rama, karena sudah terlalu banyak
kebohongan yang aku katakan untuk membuatnya tetap ceria mengetahui bahwa Rama
belum punya pacar. Bahkan aku pura-pura tidak terluka saat dia katakan bahwa
dia mencintai Rama. Semua ini kulakukan karena ketakutan ku bahwa Amel akan
membenci ku jika dia tau aku dan Rama bersama.
“Aku tidak bisa Mel, aku ada kerjaan. Maaf ya, lain kali aja mel”
Jawabku. Oh begitu, oke deh Ran. Biar nanti aku pergi sendiri yah. Emang ada
kerjaan apa sih Ran?” Tanya Amel padaku. “Tidak aku hanya ingin pergi dengan
temanku, karena aku sudah janji padanya. Ahh yasudah mel ayo kita lanjutin
latihan basket kita” Ajakku pada Amel.
*---*
Ponsel yang kuletakkan di dalam tas,
mengeluarkan getaran hingga terdengar oleh orang disekitarku, dan ketika aku meilhat
kelayar ternyata getaran itu disebabkan karena panggilan dari Rama. Segera aku
mengangkatnya. “Hallo Ram, kamu dimana? Aku sudah lama menunggumu disini.
Tanyaku pada Rama. “Iya Ran maaf aku sedikit telat, kamu tunggu bentar yah. Aku
nggak bakal lama kok.” Jawab Rama. “Iya deh Ram, aku tunggu kok. Jangan
kelamaan yah aku sendirian disini. Jawabku sambil ternyum sendiri.
Aku senang sekali hari ini, karena bisa makan
siang berdua sama Rama. Walaupun aku tau sebenarnya Amel hari ini mengajakku
untuk pergi bersamanya. Semoga hari ini berjalan lancar tuhan, aku bisa
menghabiskan sedikit waktu luangku bersama Rama. Dan tidak akan bertemu dengan
siapapun yang satu sekolah denganku.
Setibanya Rama di Restaurant-
Kami berdua menikmati
makan siang kali ini, aku senang melihat Rama dengan lahapnya menghabiskan nasi
goreng seafood makanan kesukaanya. Tiba-tiba aku terdiam, mata Rama sedang
menatapku. “Ran, sampai kapan aku bertahan mencintaimu dalam diam? Tidakah
seharusnya kau katakan yang sebenarnya dengan Amel.” Aku semakin diam mendengar
perkataan Rama. “Ran, jika kau benar-benar mecintaiku, kamu tidak mungkin
membiarkanku bertahan tanpa pernah tau kapan kita akan benar-benar menyatu”
Lanjut Rama. Kali ini akku mencoba mengatakan apa yang berani aku katakana. “Maafkan
aku Ram, kau tau posisiku sangat sulit. Apakah aku harus mencintaimu dan
mengatakan pada semua orang bahwa kita bersama kemudian aku melihat sahabatku
sendiri terluka. Apakah aku pantas bahagia diatas kesedihan sahabatku. Aku
sendiri bingung apa yang harus aku lakukan. Mencintai kekasih atau mencintai
sahabat.” Jawabku dengan nada merendah dan tidak terasa air mata jatuh
dipipiku.
“Ran, jika kita saling
mencintai. Pasti kita akan menemukan cara untuk membuat segalanya berjalan
mudah. Lagi pula, apakah kau tidak merasa Amel akan lebih tersakiti karena
sahabatnya bahagia sendiri dan membohongi kenyataan yang ada”. Aku terdiam
mendengar pernyataan Rama dan aku lebih shock lagi ketika melihat Amel berdiri
didepan meja kami, dan ternyata dia mendengar semua perkataanku dengan Rama.
Aku melihat wajah yang penuh amarah dari Amel, aku tidak tau apa yang harus aku
lakukan. Dan aku hanya bisa melihat Rama mengejar Amel, untuk menjelaskan
semuanya pada Amel dan duduk menangis karena baru pertama kali aku melihat
wajah yang penuh amarah itu.
*---*
Malam ini yang aku
pikirkan hanya bagaimana Rama mengatakannya kepada Amel dan bagaimana reaksi
Amel. Apakah dia akan membenciku. Aku tidak sabar ingin menanyakan pada Rama,
segera kukirim kan
pesan teks padanya. Dan aku hanya mendapatkan jawaban, lihat besok Ran, aku
juga bingung belum bisa memastikan bagaimanan reaksi Amel. Yaa, bukan jawaban
yang ku inginkan. Kali ini aku hanya berdo’a semoga besok disekolah aku dan
Amel akan tetap bersahabat.
*---*
Pagi ini perasaanku
sangat tidak biasa, bagaimana reaksi Amel. Oh tuhan, jika aku bisa memutar
ulang waktu. Aku pasti tidak akan pernah bersama Rama. Walaupun aku harus
memendam perasaan ku, setidaknya itu lebih baik. Karena aku masih bisa berteman
dengan Rama bahkan tidak akan pernah ada kejadian seperti ini.
Setibanya disekolah-
Ku beranikan diri ini
untuk memanggil Amel. Dari tadi pagi sampai sekarang jam istirahat kami tidak
saling sapa. “Amel!” panggilku. Dan reaksinya, seperti dugaanku untuk menolehkan
wajahnya saja dia tidak mau. Aku mendengar sesorang memanggil namaku “Rani!”
dan ternyata itu adalah Rama. Dan Rama langsung menghampiriku.
“Ram, tidak bisakah kau
menjaga jarak denganku, aku tidak ingin melihat Amel semakin terluka. Tolong
hargai perasaanku.”
“Maaf Ran, tapi tidak
bisakah kau hargai aku. Tidak cukup kah selama ini kita selalu menjaga jarak.
Aku mencintaimu dan aku inginkan kau berada disisiku apa itu salah?”
“Kau tau Ram, aku tidak
bisa menyerahkan dirimu ke orang lain. Karena apa! Karena aku mencintaimu. Tapi
kau tau dalam keadaan seperti ini, aku juga tidak bisa memintamu berada
disisiku.”
Aku pergi meninggalkan
Rama dengan kata-kata perpisahan, yang aku sendiri tidak ingin mengatakannya.
Bagaimana mungkin aku bisa melukai orang yang aku cintai, aku tidak tau apa
yang aku lakukan itu benar atau salah. Tapi, kuharapkan inilah yang terbaik.
Biarkan aku terluka, biar aku merasakan apa yang dirasakan Amel.
*---*
Sudah tiga hari ini,
aku dan Amel tidak lagi saling sapa. Bahkan aku juga tidak lagi bertemu dengan
Rama. Ohh tuhan aku merindukan mereka berdua. Setelah aku larut dalam
renunganku, aku melihat ponselku bergetar. Dan terlihat satu pesan dari Rama.
Aku membaca pesan tersebut, dan Rama mengajakku untuk bertemu di restaurant
terakhir kali aku bertemu dengannya, dengan alasan ini akan menjadi yang
terakhir aku dan Rama saling tatap muka. Tidak kusadari ternyata air mata
kujatuh melihat pesan tersebut. Aku tidak sanggup menjadikan pertemuan ini
sebagai pertemuan terakhir. Tapi dengan keberanian aku tetap datang menemui
Rama.
Setibanya di restaurant-
Aku melihat Rama duduk
sendiri sedang menunggu ku, dan aku langsung menghampirinya.
“Ram, apa yang ingin
kau katakan?”
“Ada yang ingin kutanyakan, sebenarnya kau
mencintai aku atau tidak. Dan apakah semua yang kau lakukan ini, mencoba
mendorongku menjauh karena semua rasa bersalahmu kepada Amel”
“Lebih tepatnya aku
mencintaimu, aku ingin kau berada disisiku. Tapi aku tidak ingin bahagia diatas
penderitaan sahabatku. Lebih baik kita berteman seperti dulu. Kupikir cukup
jadi temanmu asalkan aku bisa tetap
menyukaimu, ada disampingmu.”
Terlihat senyum diwajah
Rama, sepertinya dia senang mendengar perkataanku. Dan aku hanya terdiam, Rama
tidak membalas perkataanku. Justru aku mendengar Rama memanggil nama Amel. Dan
aku melihat Amel datang dari kejauhan.
“Ran, maafkan aku
karena tidak menyapamu sudah tiga hari ini, ini semua aku lakukan karena idenya
Rama”. Aku terdiam mendengar pernyataan Amel yang membingungkan ku.
“Iya, Ran. Kemarin
ketika aku menngejar Amel dan menjelaskan kepada Amel sebenarnya Amel tidak
marah sama sekali. Dia hanya terkejut dan berlari ketika aku mengejarnya. Dan
aku yang menyarakan ide untuk tidak menyapamu selama tiga hari. Karena aku
ingin kau menyadari bahwa pilihanmu untuk menutupi hubungan kita itu salah”
“Jadi, maksudmu Amel
tidak membenciku. Itu hanya rekayasa yang kalian lakukan berdua.” Tanyaku pada
Amel dan Rama.
“Bener kok Ran, aku
membencimu. Aku membencimu karena kau menutupi yang sebenarnya. Padahal kau tau
kan, aku
sangat ingin melihatmu bahagia. Tapi kau malah menutupinya” jawab Amel dengan
wajah cerianya.
“Maafkan aku Mel, kau
tau kan.
Bagaimana perasaanku. Aku mengetahui bahwa kau menyukai Rama tetapi justru aku
yang bersama Rama.”
“Kau tau Ran, perasaan
seseorang tidak dapat dipaksakan hanya berdasarkan kehendak. Jangan karena aku
menyukai Rama, aku harus bersama Rama. Dan memaksakan kehendaku sendiri.
Tentunya aku perlu persetujuan dari Rama jika aku ingin bersamanya.Dan yang
menentukan siapa yang ada dihatimu atau dihati Rama bukan aku, tapi kalian
sendiri. Dan Rama memilihmu, jadi apa daya cinta sudah berkata hehehe” Lanjut
Amel sambil menjulurkan lidahnya.
“Yasudah jadi sekarang,
kalian sahabat dak aku sama Rani sepasang kekasihkan. Haha” Lanjut Rama.
Iya,iya Ram. Tenang
saja kalian berdua sepasang kekasih kok” Jawab Amel sambil tertawa
Okelah sahabatku yang
kucinta Amelia dan kekasihku yang juga kucintai Rama Fauzan, sekarang aku
berharap apapun yang terjadi hari ini, semoga itu adalah yang terbaik untuk
kita semua. Lanjutku dengan senyum dan kepercayaan diri bahwa aku tidak perlu
memilih diantara mencintai sahabat atau kekasih. Karena aku bisa mencintainya
sekaligus.
*THE END*


0 komentar:
Posting Komentar