CERPENKU ;)

Kamis, 20 Desember 2012



BIZZARE LOVE TRIANGLE
(FITRI NUR ANISA)

Pagi ini mentari bersinar, langit juga tampak diam. Tidak seperti biasanya, pagi ini cuaca begitu cerah. Ku langkahkan kakiku segera menuju kendaraan bersama ayah dan adik peremupuanku menuju sekolah. Dengan wajah ceria berharap pada pelajaran olahraga hari ini aku bisa melihatnya bermain bulutangkis dengan gaya super coolnya.
*---*
Setibanya disekolah-
            “Hei Ran, lagi-lagi datang telat. Kamu ini pergi jam berapa sih dari rumah?” Tanya Amel padaku. “Ahh Mel, biasa ini semua gara-gara adikku yang super banget lembetnya. Seperti nggak tau aja kamu ni mel” jawabku. “Oh ya Mel, hari ini olahraga kita main bulutangkis kan?” Tanyaku pada Amel. “Iya Ran, nggak sabar nih pengen lihat permainan kerennya si Rama. Bisa tambah tergila-gila kali jika aku lihat dia sekeren itu terus setiap hari hehehe.” Lanjut si Amel sambil senyum-senyum sendiri. “Eh, si Rama ya. Iya aku tau kok Mel, dia itu emang keren ya siapa dulu sahabatnya”. Jawabku sambil tersenyum kecil. “Huhu sombong ya yang sudah temenan lama dengan dia, harusnya kamu bisa bantuin aku deketin dia dong Ran” Lanjut Amel sambil memasang muka cemburut.
Aku tidak tau apa yang harus ku katakan padamu Amel. Kita mencintai orang yang sama, kita berdua mencintai Rama Fauzan. dan kini jelas memang aku telah bersamanya tanpa sepengetahuanmu. Bahkan semua orang tidak ada yang tau. Aku sangat merasa bersalah, tapi apakah aku juga salah jika aku ingin bersama orang yang kucintai. Maafkan aku Amel. ‘’Hoiii Ran, ngelamun aja ya kerjaan mu” Teriak Amel padaku dan membuat aku terbangun dari lamunan kecilku. “Maaf Mel, biasa aja ya ngomongnya nggak usah pake teriak bisa? Jawabku. “Ahh lupakan ayo kita cepat kelapangan aku mau cepat-cepat lihat my lovely Rama Fauzan”. Lanjut Amel sambil ketawa sendiri sambil menarik tanganku berlari menuju lapangan olahraga.
“Lagi-lagi aku hanya melihatnya sebentar, ini semua gara-gara kita pindah lapangan nih. Kenapa juga kita harus main basket jadinya kan nggak satu lapangan” Keluh Amel lagi-lagi tentang Rama. “Sudah takdir Mel, lagian niatmu sih sekolah hanya untuk ngeliat dia” Jawabku sambil tertawa. “Coba saja kita satu kelas dengan Rama ya Ran, pasti aku bisa lihat dia setiap hari tuh, nggak perlu curi-curi kesempatan seperti ini hahaha. Oh ya Ran, pulang sekolah ada kerjaan gak? Temenin aku yuk ke gramedia, ada komik baru nih” Tanya Amel yang tiba-tiba melupakan semua perkataanya tentang Rama. Aku bersyukur dia berhenti membicarakan Rama, karena sudah terlalu banyak kebohongan yang aku katakan untuk membuatnya tetap ceria mengetahui bahwa Rama belum punya pacar. Bahkan aku pura-pura tidak terluka saat dia katakan bahwa dia mencintai Rama. Semua ini kulakukan karena ketakutan ku bahwa Amel akan membenci ku jika dia tau aku dan Rama bersama.
“Aku tidak bisa Mel,  aku ada kerjaan. Maaf ya, lain kali aja mel” Jawabku. Oh begitu, oke deh Ran. Biar nanti aku pergi sendiri yah. Emang ada kerjaan apa sih Ran?” Tanya Amel padaku. “Tidak aku hanya ingin pergi dengan temanku, karena aku sudah janji padanya. Ahh yasudah mel ayo kita lanjutin latihan basket kita” Ajakku pada Amel.

*---*
Ponsel yang kuletakkan di dalam tas, mengeluarkan getaran hingga terdengar oleh orang disekitarku, dan ketika aku meilhat kelayar ternyata getaran itu disebabkan karena panggilan dari Rama. Segera aku mengangkatnya. “Hallo Ram, kamu dimana? Aku sudah lama menunggumu disini. Tanyaku pada Rama. “Iya Ran maaf aku sedikit telat, kamu tunggu bentar yah. Aku nggak bakal lama kok.” Jawab Rama. “Iya deh Ram, aku tunggu kok. Jangan kelamaan yah aku sendirian disini. Jawabku sambil ternyum sendiri.
Aku senang sekali hari ini, karena bisa makan siang berdua sama Rama. Walaupun aku tau sebenarnya Amel hari ini mengajakku untuk pergi bersamanya. Semoga hari ini berjalan lancar tuhan, aku bisa menghabiskan sedikit waktu luangku bersama Rama. Dan tidak akan bertemu dengan siapapun yang satu sekolah denganku.
Setibanya Rama di Restaurant-
            Kami berdua menikmati makan siang kali ini, aku senang melihat Rama dengan lahapnya menghabiskan nasi goreng seafood makanan kesukaanya. Tiba-tiba aku terdiam, mata Rama sedang menatapku. “Ran, sampai kapan aku bertahan mencintaimu dalam diam? Tidakah seharusnya kau katakan yang sebenarnya dengan Amel.” Aku semakin diam mendengar perkataan Rama. “Ran, jika kau benar-benar mecintaiku, kamu tidak mungkin membiarkanku bertahan tanpa pernah tau kapan kita akan benar-benar menyatu” Lanjut Rama. Kali ini akku mencoba mengatakan apa yang berani aku katakana. “Maafkan aku Ram, kau tau posisiku sangat sulit. Apakah aku harus mencintaimu dan mengatakan pada semua orang bahwa kita bersama kemudian aku melihat sahabatku sendiri terluka. Apakah aku pantas bahagia diatas kesedihan sahabatku. Aku sendiri bingung apa yang harus aku lakukan. Mencintai kekasih atau mencintai sahabat.” Jawabku dengan nada merendah dan tidak terasa air mata jatuh dipipiku.
            “Ran, jika kita saling mencintai. Pasti kita akan menemukan cara untuk membuat segalanya berjalan mudah. Lagi pula, apakah kau tidak merasa Amel akan lebih tersakiti karena sahabatnya bahagia sendiri dan membohongi kenyataan yang ada”. Aku terdiam mendengar pernyataan Rama dan aku lebih shock lagi ketika melihat Amel berdiri didepan meja kami, dan ternyata dia mendengar semua perkataanku dengan Rama. Aku melihat wajah yang penuh amarah dari Amel, aku tidak tau apa yang harus aku lakukan. Dan aku hanya bisa melihat Rama mengejar Amel, untuk menjelaskan semuanya pada Amel dan duduk menangis karena baru pertama kali aku melihat wajah yang penuh amarah itu.
*---*
            Malam ini yang aku pikirkan hanya bagaimana Rama mengatakannya kepada Amel dan bagaimana reaksi Amel. Apakah dia akan membenciku. Aku tidak sabar ingin menanyakan pada Rama, segera kukirim kan pesan teks padanya. Dan aku hanya mendapatkan jawaban, lihat besok Ran, aku juga bingung belum bisa memastikan bagaimanan reaksi Amel. Yaa, bukan jawaban yang ku inginkan. Kali ini aku hanya berdo’a semoga besok disekolah aku dan Amel akan tetap bersahabat.
*---*
            Pagi ini perasaanku sangat tidak biasa, bagaimana reaksi Amel. Oh tuhan, jika aku bisa memutar ulang waktu. Aku pasti tidak akan pernah bersama Rama. Walaupun aku harus memendam perasaan ku, setidaknya itu lebih baik. Karena aku masih bisa berteman dengan Rama bahkan tidak akan pernah ada kejadian seperti ini.
Setibanya disekolah-
            Ku beranikan diri ini untuk memanggil Amel. Dari tadi pagi sampai sekarang jam istirahat kami tidak saling sapa. “Amel!” panggilku. Dan reaksinya, seperti dugaanku untuk menolehkan wajahnya saja dia tidak mau. Aku mendengar sesorang memanggil namaku “Rani!” dan ternyata itu adalah Rama. Dan Rama langsung menghampiriku.
            “Ram, tidak bisakah kau menjaga jarak denganku, aku tidak ingin melihat Amel semakin terluka. Tolong hargai perasaanku.”
            “Maaf Ran, tapi tidak bisakah kau hargai aku. Tidak cukup kah selama ini kita selalu menjaga jarak. Aku mencintaimu dan aku inginkan kau berada disisiku apa itu salah?”
            “Kau tau Ram, aku tidak bisa menyerahkan dirimu ke orang lain. Karena apa! Karena aku mencintaimu. Tapi kau tau dalam keadaan seperti ini, aku juga tidak bisa memintamu berada disisiku.”
            Aku pergi meninggalkan Rama dengan kata-kata perpisahan, yang aku sendiri tidak ingin mengatakannya. Bagaimana mungkin aku bisa melukai orang yang aku cintai, aku tidak tau apa yang aku lakukan itu benar atau salah. Tapi, kuharapkan inilah yang terbaik. Biarkan aku terluka, biar aku merasakan apa yang dirasakan Amel.
*---*
            Sudah tiga hari ini, aku dan Amel tidak lagi saling sapa. Bahkan aku juga tidak lagi bertemu dengan Rama. Ohh tuhan aku merindukan mereka berdua. Setelah aku larut dalam renunganku, aku melihat ponselku bergetar. Dan terlihat satu pesan dari Rama. Aku membaca pesan tersebut, dan Rama mengajakku untuk bertemu di restaurant terakhir kali aku bertemu dengannya, dengan alasan ini akan menjadi yang terakhir aku dan Rama saling tatap muka. Tidak kusadari ternyata air mata kujatuh melihat pesan tersebut. Aku tidak sanggup menjadikan pertemuan ini sebagai pertemuan terakhir. Tapi dengan keberanian aku tetap datang menemui Rama.
Setibanya di restaurant-
            Aku melihat Rama duduk sendiri sedang menunggu ku, dan aku langsung menghampirinya.
            “Ram, apa yang ingin kau katakan?”
            “Ada yang ingin kutanyakan, sebenarnya kau mencintai aku atau tidak. Dan apakah semua yang kau lakukan ini, mencoba mendorongku menjauh karena semua rasa bersalahmu kepada Amel”
            “Lebih tepatnya aku mencintaimu, aku ingin kau berada disisiku. Tapi aku tidak ingin bahagia diatas penderitaan sahabatku. Lebih baik kita berteman seperti dulu. Kupikir cukup jadi temanmu asalkan aku  bisa tetap menyukaimu, ada disampingmu.”
            Terlihat senyum diwajah Rama, sepertinya dia senang mendengar perkataanku. Dan aku hanya terdiam, Rama tidak membalas perkataanku. Justru aku mendengar Rama memanggil nama Amel. Dan aku melihat Amel datang dari kejauhan.
            “Ran, maafkan aku karena tidak menyapamu sudah tiga hari ini, ini semua aku lakukan karena idenya Rama”. Aku terdiam mendengar pernyataan Amel yang membingungkan ku.
            “Iya, Ran. Kemarin ketika aku menngejar Amel dan menjelaskan kepada Amel sebenarnya Amel tidak marah sama sekali. Dia hanya terkejut dan berlari ketika aku mengejarnya. Dan aku yang menyarakan ide untuk tidak menyapamu selama tiga hari. Karena aku ingin kau menyadari bahwa pilihanmu untuk menutupi hubungan kita itu salah”
            “Jadi, maksudmu Amel tidak membenciku. Itu hanya rekayasa yang kalian lakukan berdua.” Tanyaku pada Amel dan Rama.
            “Bener kok Ran, aku membencimu. Aku membencimu karena kau menutupi yang sebenarnya. Padahal kau tau kan, aku sangat ingin melihatmu bahagia. Tapi kau malah menutupinya” jawab Amel dengan wajah cerianya.
            “Maafkan aku Mel, kau tau kan. Bagaimana perasaanku. Aku mengetahui bahwa kau menyukai Rama tetapi justru aku yang bersama Rama.”
            “Kau tau Ran, perasaan seseorang tidak dapat dipaksakan hanya berdasarkan kehendak. Jangan karena aku menyukai Rama, aku harus bersama Rama. Dan memaksakan kehendaku sendiri. Tentunya aku perlu persetujuan dari Rama jika aku ingin bersamanya.Dan yang menentukan siapa yang ada dihatimu atau dihati Rama bukan aku, tapi kalian sendiri. Dan Rama memilihmu, jadi apa daya cinta sudah berkata hehehe” Lanjut Amel sambil menjulurkan lidahnya.
            “Yasudah jadi sekarang, kalian sahabat dak aku sama Rani sepasang kekasihkan. Haha” Lanjut Rama.
            Iya,iya Ram. Tenang saja kalian berdua sepasang kekasih kok” Jawab Amel sambil tertawa
            Okelah sahabatku yang kucinta Amelia dan kekasihku yang juga kucintai Rama Fauzan, sekarang aku berharap apapun yang terjadi hari ini, semoga itu adalah yang terbaik untuk kita semua. Lanjutku dengan senyum dan kepercayaan diri bahwa aku tidak perlu memilih diantara mencintai sahabat atau kekasih. Karena aku bisa mencintainya sekaligus.
                                                           
*THE END*

0 komentar:

Posting Komentar

Blog contents © Kitto mata aeru~ 2010. Blogger Theme by Nymphont.